Review E-Business

Judul      : Analisi Penerapan E-Business pada Go-Jek

Penulis  : Diposkan oleh ifri handi

Sumber : http://ifriloeb.blogspot.co.id/2015/10/penarapan-e-bisnis-pada-gojek.html

 

Tujuan

  • Mengidentifikasi perusahaan Go-Jek
  • Menganalisis sistem e-businessyang diterapkan perusahaan Go-Jek
  • Menganalisis layanan jasa Go-Jek yang berbasis aplikasi

E-Business

e-business dapat difenisikan penggunaan teknologi informasi dan komunikasi oleh organisasi, individu, atau pihak-pihak terkait untuk menjalankan dan mengelola proses bisnis utama sehingga dapat memberikan keuntungan—dapat berupa berupa keamanan, fleksibilitas, integrasi, optimasi, efisiensi, yang pada akhirnya dapat meningkatan produktivitas dan profit.

Perusahaan dapat mengandalkan aplikasi e-business untuk

(1) reengineer proses bisnis internal

(2) implementasi system e-commerce terhadap konsumen dan supplier

(3) memajukan kolaborasi perusahaan antara timbisnis dan kelompok kerja.

IT in E-Business

Teknologi informasi saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Masyarakat mengenal dan merasakan langsung manfaat dari perkembangan teknologi informasi pada kehidupannya. Bisnis adalah salah satu bagian hidup masyarakat yang sangat terpengaruh perubahan teknologi informasi. Dalam perkembangan dunia bisnis saat ini, perusahaan dapat tertinggal dari pesaingnya apabila tidak menguasai atau menerapkan teknologi informasi dalam industrinya. Go-Jek menerapkan functional business system yang terbagi dalam lima komponen .

Marketing

Marketing adalah suatu proses penyusunan komunikasi terpadu yang bertujuan untuk memberikan informasi mengenai barang atau jasa dalam kaitannya dengan memuaskan kebutuhan dan keinginan manusia.Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Kegiatan marketing yang dilakukan perusahaan Go-Jek antara lain : CRM

Operation

Operation adalah serangkaian kegiatan terpadu yang dilakukan untuk meningkatkan efisiensi kinerja perusahaan sehingga perusahaan dapat mencapai tujuan dari perusahaan tersebut. Serangkaian kegiatan operation yang dilakukan perusahaan Go-Jek antara lain: SCM

Enterprise Resource Planning

Enterprise Resource Planning(ERP)merupakan sebuah sistem informasi perusahaan yang dirancang untuk mengkoordinasikan semua sumber daya, informasi dan aktifitas yang diperlukan perusahaan untuk melaksanakan proses bisnis secara lengkap. Umumnya, sistem ERP didasarkan pada database. Go-Jek menggunakan softwareyang terintegrasi dari aplikasi yang digunakan oleh seluruhkonsumen  dandriverke dalam satu sistem komputer yang dapat memenuhi semua kebutuhan perusaha

Finance & Accounting

Sistem akuntansi dari Go-Jek menggunakan software akuntansi seperti pada Gambar 3. Sistem akuntansi dari Go-Jek tersusun dari diantaranya fasilitas order processing yaitu fasilitas yang memungkinkan untuk konsumen melakukan pemesanan jasa, kemudian data yang telah diperoleh dari form yang tertera akan menentukan jumlah pembayaran.

Routing & Shipping

Routing merupakan proses untuk memilih jalur (path) yang harus dilalui oleh paket untuk dapat sampai ke tujuan dari satu lokasi ke lokasi lain. Sedangkan shipping merupakan proses pengiriman barang secara fisik via darat, laut, atau udara yang membutuhkan proses routing Go-Jek dalam praksisnya sudah menggunakan asas e-business dalam proses shipping dikarenakan dalam proses pemesanan layanan tersebut sudah berbasis teknologi informasi dalam bentuk smartphone.

Human Resource Management

Human Resource Managementmerupakan prosedur sistematik untuk mengumpulkan, menyimpan, mempertahankan, menarik, dan menvalidasi data yang dibutuhkan oleh sebuah organisasi tentang sumber daya manusia.

Commerce & marketing

Go-Jek sudah menerapkan sistem e-bussines dalam proses marketingnya. Kegiatan marketing dilakukan dengan memasang flyer di website perusahaan, mitra kerja, social media, dan segala bentuk media elektronik lainnya. Selain itu baru-baru ini Go-Jek juga memasang video iklan di youtube yang dimana ketika seseorang menekan iklan tersebut maka otomatis akan langsung masuk ke website perusahaan.

Global market

Global Market adalah suatu aktivitas pemasaran berskala luas yang terbuka bagi semua pelaku usaha tak terkecuali di pasar dunia. Berdasarkan hasil analisis kelompok, kami menyimpulkan bahwa Go-Jek masih belum termasuk ke dalam perusahaan yang global.

Keuntungan E-Business

Perusahaan yang menerapkan sistem E-business tentunya akan lebih banyak mendapatkan benefit dalam kegiatan operasinya. Secara garis besar selain dapat mempermudah, sistem e-business di perusahaan dapat memperpendek jarak, ekspansi,perluasan jaringan mitra bisnis, efisien, revenue stream (Aliran Pendapatan) baru yang lebih menjanjikan, meningkatkanmarket exposure (Pangsa Pasar), menurunkan operational cost (biaya operasional), Melebarkan jangkauan (GlobalReach), meningkatkan customer loyaltymeningkatkan supplier management, memperpendek waktu produksi, meningkatkan value chain (mata rantai pendapatan).

Penerapan e-Business pada Go-jek ini dijelaskan bahwa pengaplikasian dapat dilakukan di dalam beberapa sistem perusahaan yang meliputi :

  • IT in e-Business
  • Marketing
  • Operation
  • EnterpriseResource Planning
  • Finance & Accounting
  • Routng & Shipping
  • Human Resouce Management
  • Commerce & Marketing
  • Global Market

Kesimpulan

Go-jek merupakan Sebuah Revolusi layanan transportasi kendaraan bermotor roda dua yaitu sepeda motor yang berbasis aplikasi yang dapat diunduh dengan menggunakan smartphone. Layanan jasa tranportasi yang ditawarkan tidak hanya berupa tranportasi bagi pemesanan tapi juga berupa jasa antar barang (pengiriman kilat)serta makanan aplikasi yang disediakan oleh Go-jek didalamnya juga menerapkan functional bussiness system yang terbagi dalam lima komponen yaitu marketing ,Operation, Human resource management, finance /accounting dan routing and shipping. kelima komponen tersebut tergabung pada aplikasi yang secara otomatis mengatur seluruh kegiatan di lapangan yaitu jarak tempuh dan jam kerja driver yang nantinya dapat direkap oleh pihak perusahaan secara real time.

Advertisements

Portofolio

 

Nama : Dian Ahmad

Tempat Tanggal Lahir : Sebatik, 10 Mei 1996

Hobby : Olahraga Basket , Music,Membuat temuan dan ngotak-ngatik barang elektronik

Email : ahmadyan10jha@gmail.com

Website : senjatagua.wordpress.com

 

Saya berasal dari Kalimantan Utara di kota Sebatik dan merantau ke jawa untuk menuntut ilmu.sekolah yang saya jalani dulu yaitu SD, SMP dan SMA di sebatik.  Saat ini Saya Kuliah di Jombang  Di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum(UNIPDU) dengan jurusan Teknik Sistem Informasi dan sudah Semerter 6.

Di awal kuliah saya banyak mengikuti organisasi, tapi karena organisasi tidak cocok, saya keluar.Namun ada satu organisasi yang saya masih lanjut sampai sekarang yaitu Tsuroyya Music. Tsuroyya adalah organisasi berbasis Music, dan karena itu sesuai dengan hobby saya.Jadi saya berorganisasi sekaligus menyalurkan hobby.

 

Hasil dari kuliah yang saya jalani yaitu dapat memahami bahasa pemograman berbasis web ,membuat program berbasis web dengan html dan php dan juga membuat program yang berbasis mobile .

Mungkin itu saja tentang saya sekian.

Terima kasih.

LAPORAN ANALISIS PERUSAHAAN JASA TELEKOMUNIKSI PT.BAKRIE TELECOM

“Sistem Informai Eksekutif”

Unipdu Warna

Di susun oleh:

Nama                   : Dian Ahmad (4114045)

Dosen Pengampu : EndangKurniawan, S.Kom., M.M., CEH, CHFI, CIPM.

 

FAKULTAS TEKNIK

PRODI SISTEM INFORMASI

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM

JOMBANG

2017

 

KATA PENGANTAR

 

Dengan mengucap puji dan syukur kehadirat Allah SWT,  karena atas ridhodan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir Semester Mata Kuliah  Sistem Informasi Eksekutif ini. Maksud dan tujuan dari penulisanlaporan ini adalah untuk memenuhi tugas akhir semester Mata Kuliah Sistem Informasi Eksekutif Jurusan Sistem Informasi di Universitas Pesantren TinggiDarul ‘Ulum Jombang.

Penulis merasa bahwa dalam menyusun laporan ini masih menemui beberapa kesulitan dan hambatan, disamping itu juga menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan-kekurangan lainnya, maka dari itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari semua pihak.

Menyadari penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang membantu dalam membuat laporan ini.

Akhir kata, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan karunia-Nya dan membalas segala amal budi serta kebaikan pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan laporan ini dan semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan.

 

Kertosono, 25 Januari 2017

 

Penulis       

DIAN AHMAD

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Sistem adalah satu kesatuan komponen yang saling terhubung dengan batasan yang jelas bekerja bersama-sama untuk mencapai seperangkat tujuan. Menurut O’Brien (2005) sistem informasi adalah kombinasi teratur dari orang-orang, perangkat keras, perangkat lunak, jaringan komunikasi, dan sumber daya data yang mengumpulkan, mengubah dan menyebarkan informasi dalam sebuah organisasi. Orang–orang yang menggunakan sistem informasi zaman sekarang bertujuan melakukan komunikasi dengan menggunakan berbagai jenis dari perangkat keras, perintah proses informasi dan prosedur perangkat lunak, jaringan komunikasi, serta data yang disimpan. Salah satu karakteristik dari sistem informasi adalah perbedaan komponen–komponen yang bergantung pada setiap data dan proses mengolahnya.

Sistem informasi juga merupakan suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan-kebutuhan pengolahan transaksi harian, mendukung operasi, bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan. Perusahaan bergantung pada sistem informasi untuk berkomunikasi antara satu sama lain dengan menggunakan berbagai jenis alat fisik (hardware), perintah dan prosedur pemrosesan informasi (software), saluran komunikasi (jaringan) dan data yang disimpan (sumber daya data). Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, sistem informasi memberikan peran yang sangat penting dalam dunia bisnis sehingga seringkali orang menggunakan keunggulan sistem informasi yang ia gunakan sebagai kunci strategi bisnis.

Informasi di dalam sebuah perusahaan sangat penting untuk mendukung kelangsungan perkembangannya, sehingga terdapat alasan bahwa informasi sangat dibutuhkan bagi sebuah perusahaan. Akibat bila kurang mendapatkan informasi, dalam waktu tertentu perusahaan akan mengalami ketidakmampuan mengontrol sumber daya, sehingga dalam mengambil keputusan-keputusan strategis sangat terganggu, yang pada akhirnya akan mengalami kekalahan dalam bersaing dengan lingkungan pesaingnya. Disamping itu, sistem informasi yang dimiliki seringkali tidak dapat bekerja dengan baik. Masalah utamanya adalah bahwa sistem informasi tersebut terlalu banyak informasi yang tidak bermanfaat atau berarti (sistem terlalu banyak data). Memahami konsep dasar informasi adalah sangat penting (vital) dalam mendesain sebuah sistem informasi yang efektif (effective business system). Menyiapkan langkah atau metode dalam menyediakan informasi yang berkualitas adalah tujuan dalam mendesain sistem baru.

Salah satu perusahaan yang menggunakan jaringan sistem informasi terintegrasi untuk mempermudah jalannya bisnis perusahaan adalah PT BAKRIE TELECOM. Sistem informasi pada perusahaan ini dibuat sebagai wadah aliran informasi untuk ditransfer dari suatu divisi ke divisi lain yang berkaitan. Dengan perkembangan telekomunikasi yang semakin pesat dan semakin ketatnya persaingan di dunia telekomunikasi, oleh karena itu PT. BAKRIE TELECOM dituntut untuk semakin meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanannya agar dapat menjadi perusahaan telekomunikasi terbaik di Indonesia bahkan dunia, tidak hanya itu saja PT BAKRIE TELECOM juga menyadari bahwa terdapat perananan penting sumber daya manusia (SDM) dalam membantu perusahaan untuk mencapai sasaran utama, dan dalam pelaksanaannya harus mempertimbangkan kepentingan sosial, fungsional dan karyawan.

 

 

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah untuk menambah wawasan dalam mengetahui bagaimana peran Sistem Informasi terhadap PT BAKRIE TELECOM dan memenuhi tugas mata kuliah sistem informasi eksekutif fakultas teknik – UNIPDU.

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang, maka rumusan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Memahami peranan teknologi informasipada PT BAKRIE TELECOM
  2. Memahami peranan teknologi informasi dalam manajemen strategic.
  3. Memahami pentingnya devisi IT dalam proses bisnis.
  4. Memhami pentinya peran CIO  dalarusahaan.

 

BAB II

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

  1. Bakrie Telecom, Tbk. atau dikenal juga dengan nama BTEL adalah operator telekomunikasi yang menyelenggarakan jasa Fixed Wireless Access (FWA) dengan layanan mobilitas terbatas. Berdiri di tahun 1993 sebagai anak perusahaan PT. Bakrie & Brothers, Tbk. dengan nama awal PT. Radio Telepon Indonesia (Ratelindo) kemudian berubah nama menjadi Bakrie Telecom di tahun 2003 dengan menggunakan teknologi CDMA 2000 1x.

Pada tahun 2006, Bakrie Telecom terdaftar di Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan simbol ticker BTEL. Jika di awal berdirinya perusahaan hanya menyelenggarakan layanan dasar suara dan SMS, maka di tahun 2010 Bakrie Telecom melakukan transformasi layanan dengan menyelenggarakan pula layanan Broadband Wireless Access (BWA) dengan menggunakan teknologi CDMA EVDO (Evolution Data Optimized).

Tantangan persaingan yang demikian ketat dalam industri telekomunikasi Indonesia mendorong manajemen Bakrie Telecom untuk melakukan 5 tahap revitalisasi pada awal kuartal kedua 2012. Pertama, meliputi program penyehatan dan penguatan keuangan perusahaan. Kedua, penguatan organisasi, budaya perusahaan dan governance. Ketiga, kembali ke inti kekuatan BTEL yaitu “One Brand, One Price (ESIA)”, tapi dengan banyak opsi produk. Keempat, mendorong pertumbuhan revenue dari data. Kelima, peningkatan kualitas produk dan layanan pelanggan.

Hasil revitalisasi tersebut mulai memperlihatkan hasil positif baik dari sisi kinerja keuangan perusahaan maupun laju pertumbuhan pelanggan. Pada kuartal ketiga 2012, Bakrie Telecom mencatat pertumbuhan pelanggan sebesar 4,5% dari 11,46 juta pelanggan di kuartal kedua 2012 menjadi 11,98 juta pelanggan di kuartal ketiga 2012.

Laju profitabilitas perusahaan sebagai hasil penghematan dan efisiensi operasional, pada dua quarter terakhir, telah membukukan pertumbuhan rata-rata 30%. Likuiditas perseroan memang masih ketat, tapi pertumbuhan EBITDA di Q3 dibandingkan Q2 dan Q1 2012 menunjukkan peningkatan daya saing Perseroan yang cukup signifikan. Ini membuktikan kinerja operasional perusahaan semakin kuat sehingga secara finansial pengaruh positifnya terhadap keuangan dapat segera dirasakan.

 

 

 

VISI

“Memberikan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat Indonesia dengan menyediakan konektivitas informasi”

MISI

“Menyediakan konektivitas informasi yang berkualitas dengan harga terjangkau”

iki

Gambar II.1. 4 Elemen Budaya Kerja PT. Bakrie Telecom, Tbk.

(Sumber : http://www.bakrietelecom.com)

Nilai utama yang dikembangkan oleh perusahaan :

  1. Memaksimalkan koneksi data internet untuk bisnis
  2. Mengoptimalkan karyawan dengan alat telekomunikasi terpercaya dan hemat
  3. Menekan biaya operasional
  4. Memberikan layanan 24/7 kepada pelanggan dengan cepat
  5. Memperluas jaringan penjualan baik domestic maupun internasional
  6. Menambah wawasan bisnis dan ekonomi baik secara mikro maupun makro

 

BAB III

PEMBAHASAN

  1. Penerapan Teknologi Informasi

Teknologi informasi mempunyai kontribusi yang cukup berpengaruh terhadap keberhasilan suatu bisnis. Peningkatan pencapaian dan produktivitas perusahaan akan lebih optimal jika perusahaan dapat mengontrol dan melakukan inovasi pada proses bisnisnya. Jika dilihat berdasarkan teorinya, teknologi informasi mempunyai peranan penting bagi perusahaan dalam melakukan inovasi. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, perusahaan tidak hanya dapat mengontrol dan melakukan inovasi, bahkan dapat menekan biaya yang akan dikeluarkan perusahaan dalam mengukur, bereksperimen, berbagi dan mereplikasi informasi pada proses bisnisnya dalam jangka panjang.

Seperti pada penggunaan teknologi informasi yang digunakan oleh perusahaan perbankan, mempunyai kontribusi yang cukup besar bagi produktivitasnya, terutama dalam meningkatkan pelayanan. ATM 24 jam yang tersedia, memudahkan pelanggan dalam melakukan transaksi atau mengambil uang kapanpun dan dimanapun tanpa harus datang langsung dan menunggu antrian di bank.

Perusahaan adalah suatu sistem fisik yang dikelola dengan menggunakan sistem konseptual. Sistem perusahaan merupakan sistem lingkaran tertutup dalam arti dikendalikan oleh manajemen, menggunakan umpan balik untuk mengawasi pelaksanaan agar dapat mencapai suatu tujuan. Perusahaan juga merupakan suatu sistem terbuka, dalam arti berhubungan dengan lingkunganya. Sebuah perusahaan mengambil sumber daya dari lingkungannya, mengubah sumber daya tersebut menjadi barang dan jasa, dan mengembalikan sumber daya yang telah diubah kepada lingkungannya. Lingkungan merupakan alasan utama keberadaan perusahaan. Sistem Informasi Manajemen ( SIM ) muncul karena manajer tidak puas hanya menghitung apa yang telah terjadi dalam bisnis, mereka ingin mengendalikan operasi dan merencanakan masa depan. Kebutuhan ini memerlukan data akuntansi untuk menciptakan informasi yang diperlukan. Laporan menyampaikan informasi dan model matematika dikembangkan untuk memperkirakan permintaan produk, mengoptimalkan penggunaan sumber daya manufakatur, serta menyampaikan produk kekonsumen. Walau istilah sistem informasi manajemen tetap, sekarang perannya lebih dari sekedar mengoptimalkan operasi. Istilah SIM terutama digunakan untuk menjelaskan sistem informasi yang membantu para manajer dalam melaksanakan aktivitas mereka dibandingkan dengan sistem informasi yang sekedar menjelaskan apa yang telah terjadi. Perusahaan yang aktivitas operasionalnya masih manual ketika mencoba menggunakan suatu teknologi komputer untuk pemrosesan data, maka masalah pertama yang dihadapi adalah besarnya pembiayaan yang harus dikeluarkan. Pembiayaan ini dapat berupa biaya pembelian  hardware, pembangunan sistem, dan penyiapan infrastruktur, baik sumber daya manusia maupun teknis. Sementara perusahaan yang sudah memiliki sistem pemrosesan data terkomputerisasi, ketika melakukan pengembangan sistem informasi akan menghadapi masalah pada aspek fisik dan non-fisik. Aspek fisik meliputi biaya pengembangan,  up grading hardwaredan penciptaan infrastruktur tertentu, sedangkan aspek non-fisik meliputi tingkat penerimaan user, dukungan manajemen dan kualitas sistem informasi.

Penerapan sistem informasi di suatu perusahaan merupakan salah satu cara dalam memenangkan persaingan yang semakin ketat dan menjadikan informasi sebagai sumberdaya yang harus dikelola dengan tepat, sehingga tercipta suatu sistem terpadu yang menyediakan informasi untuk mendukung kegiatan operasional, manajemen dan fungsi penentu pengambilan keputusan bisnis yang tepat. Penerapan sistem informasi baru juga akan mengalami masalah yang jika tidak diselesaikan akan menimbulkan inefisiensi dan inefektivitas dalam pemberdayaan sumber daya potensial. Oleh karena itu, sebelum melakukan upaya pengembangan dan implementasi, harus dilakukan proses konsiderasi secara multidimensi terhadap berbagai variabel yang mungkin berpengaruh terhadap kesuksesan suatu sistem baru.

Selama tahun 1990-an penerapan komputer yang konservatif mulai memberi jalan bagi kemunculan kembali minat untuk menerapkan komputer diorganisasi secara keseluruhan. Penjual perangkat lunak yang ambisius mengembangkan dan mulai memasarkan paket–paket perangkat lunak standar yang bertujuan memenuhi kebutuhan hampir segala jenis organisasi. Sistem ini disebut dengan sistem informasi perusahaan, cukup berhasil dengan cepat sehingga perusahaan–perusahaan yang menggunakan komputer mempertimbangkan penerapannya. Seperti yang didefinisikan oleh para penjual perangkat lunak awal , sistem informasi perusahaan enterprise information system adalah suatu sistem berbasis komputer yang dapat melakukan semua tugas akuntansi standar bagi semua unit organisasi secara terintegrasi dan terkoordinasi. Sedangkan istilah enterprise digunakan karena sistem ini mencakup seluruh set proses yang dilakukan oleh organisasi. Sistem tersebut mengakumulasi seluruh data transaksi akuntansi dari departemen /bagian manufaktur, pemasaran, keuangan dan sumberdaya manusia dari berbagai fungsi bisnis lain. Entis menjadi dasar area bisnis seperti sistem informasi manufaktur, pemasaran, keuangan dan sumberdaya manusia.

Informasi umum yang diperlukan manajer mengikuti pola yang mendasar pada sifat kegiatan pada suatu lapisan manajerial. Sebagian besar sistem informasi unruk manajer lapis terbawah didasarkan pada kegiatan operasi dan sistem informasilah yang memproses transaksi kegiatan di dalam organisasi, inilah yang dikenal dengan perancangan dari bawah ke atas (bottom-up design). Sistem pemrosesan transaksi dan sistem informasi lapis terbawah biasanya dikembangkan dengan cara saling berhubungan. Yang lebih penting bagi para manajer daripada pengetahuan tentang teknologi komputer adalah pengetahuan tentang sistem informasi yakni sistem yang diciptakan para analis dan manajer guna melaksanakan tugas khusus tertentu yang sangat esensial bagi berfungsinya organisasi.

Sistem informasi untuk manajemen puncak harus memiliki fokus eksternal dan berorientasi pada masa depan. Oleh sebab itu sistem informasi perencanaan harus dikaitkan dengan keperluan manajemen puncak artinya bahwa mereka harus dikembangkan lebih bebas (tidak berkaitan) dari sistem pemrosesan transaksi dan sistem pengendalian operasi. Syarat utama dari perancang sistem perencanaan pada manajerial puncak adalah pengetahuan tentang proses manajemen dan perencanaan pada lapis manajer senior dan memiliki pengetahuan tentang sistem informasi dan perancangannya.

Perancang sistem lapis terbawah harus memiliki ketrampilan teknis sistem informasi kuat dalam pengetahuan tentang kegiatan operasinya. Pada lapis manajemen madya perancangan sistem sangat dipengaruhi baik oleh sistem informasi puncak maupun sistem pengendalian dari bawah. Sistem informasi perencanaan yang dirancang untuk manajemen puncak harus dapat diperluas ke bawah guna memberikan uraian informasi perencanaan kepada lapis manajemen madya, yang lebih jauh diuraikan untuk memberikan informasi perencanaan yang diperlukan oleh manajer lapis terbawah. Sistem informasi lapis terbawah yang banyak berurusan dengan informasi internal tentang masa lalu dan masa kini, harus mampu memberikan ringkasan informasi untuk melayani keperluan manajemen dalam rangaka pengendalian kegiatan manajemen. Pada manajemen madya, informasi pengendalian kemudian lebih jauh diringkaskan untuk melayani keperluan informasi manajemen puncak guna pelaksanaan evaluasi keseluruhan dan peninjauan kembali atas kegiatan operasi. Pada lapis manajemen puncak, informasi dari luar sangat berharga bagi pelaksanaan evaluasi keseluruhan dan peninjuan kembali atas kegiatan operasi.

Faktor-faktor Penentu Keberhasilan Sistem Informasi Pada Perusahaan.

O’Brien  dan Marakas (2009) menyatakan bahwa terdapat beberapa alasan yang menyebabkan sukses atau tidaknya suatu organisasi/perusahaan dalam menerapkan sistem informasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesukesan penerapan sistem informasi, antara lain adanya dukungan dari manajemen eksekutif, keterlibatan end user  (pemakai akhir), penggunaan kebutuhan perusahaan yang jelas, perencanaan yang matang, dan harapan perusahaan yang nyata. Sementara alasan kegagalan penerapan sistem informasi  antara lain karena kurangnya dukungan manajemen eksekutif dan input dari end-user,pernyataan kebutuhan dan spesifikasi yang tidak lengkap dan selalu berubah-ubah, serta inkompetensi secara teknologi. Yang diuraikan sebagai berikut :

  1. 1. Kurangnya dukungan dari pihak eksekutif atau manajemen.

Persetujuan dari semua level manajemen terhadap suatu proyek sistem informasi membuat proyek tersebut akan dipersepsikan positif oleh pengguna dan staf pelayanan teknis informasi. Dukungan tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk penghargaan terhadap waktu dan tenaga yang telah dicurahkan pada proyek tersebut, dukungan bahwa proyek akan menerima cukup dana, serta berbagai perubahan organisasi yang diperlukan. Dengan demikian, kurangnya komitmen eksekutif puncak untuk terlibat lebih jauh dalam proyek mengakibatkan penerapan sistem informasi perusahaan menjadi sia-sia.

Keterlibatan eksekutif dalam pengembangan sistem informasi di perusahaan juga menentukan kesuksesan proses sosialisasi sistem informasi. Proses sosialisasi sistem informasi yang baru merupakan proses perubahan organisasional. Kebanyakan orang dalam organisasi akan bertahan, karena perubahan mengandung ketidakpastian dan ancaman bagi posisi dan peran mereka. Akan tetapi, proses perubahan organisasional ini diperlukan untuk manajemen perubahan selama proses sosialisasi sistem informasi baru. Beberapa resiko dan konsekuensi manajemen yang tidak tepat dalam pengembangan sistem informasi adalah sebagai berikut.

– Biaya yang berlebih-lebihan sehingga melampaui anggaran.

– Melampaui waktu yang telah diperkirakan.

– Kelemahan teknis yang berakibat pada kinerja yang berada dibawah tingkat dari yang diperkirakan.

– Gagal dalam memperoleh manfaat yang diperkirakan.

  1. 2. Kurangnya keterlibatan atau input dari end user (pemakai akhir).

Sikap positif dari pengguna terhadap sistem informasi akan sangat mendukung berhasil atau tidaknya penerapan sistem informasi. Sikap positif  dalam bentuk dukungan dan kompetensi dari  user, serta hubungan yang baik     antara user dengan teknisi merupakan faktor sikap yang menguntungkan  (favorable attitudes) dan sangat penting bagi berhasilnya penerapan sistem  informasi. Sikap positif menentukan tindakan, dan akan berkaitan dengan  tingkat penggunaan yang tinggi (high levels of use) serta kepuasan   (satisfaction) terhadap sistem tersebut. Disamping itu, keterlibatan pengguna          dalam desain dan operasi sistem informasi memiliki beberapa hasil yang positif. Pertama, jika pengguna terlibat secara mendalam dalam desain sistem,  ia akan memiliki kesempatan untuk mengadopsi sistem menurut prioritas dan             kebutuhan bisnis, dan lebih banyak kesempatan untuk mengontrol hasil.   Kedua, pengguna cenderung untuk lebih bereaksi positif terhadap sistem karena mereka merupakan partisipan aktif dalam proses perubahan itu sendiri.        Kesenjangan komunikasi antara pengguna dan perancang sistem informasi  terjadi karena pengguna dan spesialis sistem informasi cenderung memiliki perbedaan dalam latar belakang, kepentingan dan prioritas. Inilah yang sering         dikatakan sebagai kesenjangan komunikasi antara pengguna dan desainer    (user-designer communication gap).

  1. 3. Tidak Memiliki Perencanaan Memadai.

Pengembangan dan penerapan sistem informasi yang tidak didukung dengan perencanaan yang matang tidak akan mampu menjembatani keinginan dan kepentingan berbagai pihak di perusahaan. Hal ini dikarenakan sistem yang     dijalankan tidak sesuai dengan arah dan tujuan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan yang tidak memiliki kompetensi inti dalam bidang teknologi informasi sebaiknya menjadi tidak memaksakan untuk menjadi leader dalam investasi teknologi informasi.

Sebagian besar penyedia jasa teknologi informasi kurang sensitif  terhadap manajemen perusahaan, tetapi hanya fokus pada tools yang akan dikembangkan. Kelemahan inilah yang mengharuskan perusahaan untuk mengidentifikasi secara jelas kebutuhan dan spesifikasi sistem informasi yang akan diterapkan berikut manfaatnya terhadap perusahaan. Kemauan perusahaan dalam merancang penerapan sistem informasi berdasarkan             sumberdaya yang dimiliki diyakini dapat meningkatkan keunggulan kompetitif perusahaan.

  1. Inkompetensi secara Teknologi

Kesuksesan pengembangan sistem informasi tidak hanya bergantung pada penggunaan alat atau teknologinya saja, tetapi juga manusia  sebagai perancang dan penggunanya. Bodnar dan Hopwood (1995)  dalam Murdaningsih (2009) berpendapat bahwa perubahan dari sistem manual ke sistem komputerisasi tidak hanya menyangkut perubahan teknologi  tetapi juga perubahan perilaku dan organisasional. Sekitar 30 persen kegagalan pengembangan sistem informasi baru diakibatkan kurangnya perhatian pada aspek organisasional. Oleh karena itu, pengembangan sistem informasi memerlukan suatu perencanaan dan implementasi yang hati-hati, untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan (resistance to change). Sistem informasi harus dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan pengguna. Kompleksitas sistem bukanlah merupakan jaminan perbaikan kinerja, bahkan menjadi kontraproduktif jika tidak didukung oleh kesiapan sumber daya manusia dalam tahapan implementasinya. Hal ini sering terjadi terutama pada perusahaan yang pengetahuan teknologi informasinya rendah. Jika pengembangan sistem informasi diserahkan pada orang-orang yang kurang berkompeten dibidangnya maka akan berakibat fatal bagi perusahaan ketika sistem tersebut telah diterapkan.Pengembangan sistem informasi sebagai salah satu sarana pencapaian tujuan perusahaan, sehingga keduanya harus relevan, serta perlu disiapkan dengan baik dan matang. Selain itu, perusahaan harus memiliki harapan yang nyata, yaitu yang ingin dicapai dan berusaha dalam meraihnya, sehingga efektivitas dari pengembangan atau penerapan sistem informasi dapat terjadi.

Tingkat- tingkat kemampuan pemakai akhir dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Pemakai akhir tingkat menu (Menu level end user)

Pada tingkat ini pemakai hanya mampu berkomunikasi dengan perangkat lunak jadi dengan menggunakan menu-menu yang ditampilkan oleg perangkat lunak berbasis Window dan mac.

  1. Pemakai akhir tingkat perintah (command level end user)

Pada tingkat ini pemakai mampu menggunakan perangkat lunak jadi yang lebih sekedar memilih menu (dapat menggunakan bahasa perintah dari perangkat lunak untuk melaksanakan operasi aritmatika dan logika pada data)

  1. Pemakai akhir (End user programmers)

Pada tingkat ini pemakai mampu menggunakan bahasa-bahasa pemograman.

  1. Pendekatan Teknologi Informasi

Pengukuran (Measurement)

Teknologi informasi dapat digunakan untuk mengukur apa yang perusahaan telah lakukan. Dimana informasi yang dihasilkan dapat digunakan oleh perusahaan agar dapat memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang pelanggan, proses bisnis, kualitas produk, dan kelemahan-kelemahan dalam rantai pasokannya.

Uji Coba (Experimentation)

Keuntungan dari uji coba yang menggunakan teknologi informasi adalah perusahaan bisa mendapatkan sebuah hubungan sebab akibat (causality) yang tidak bisa ditemukan dengan hanya melakukan pengukuran dan observasi murni. Sehingga perusahaan dapat memiliki pengetahuan untuk segera ditindaklanjuti tentang apa yang sebenarnya terjadi dalam bisnisnya dan melihat perbedaan-perbedaan dari inovasi yang telah dilakukannya.

Berbagi (Sharing)

Perusahaan kini tidak hanya dapat berbagi data, tapi juga berbagi wawasan. Inovasi dalam berbagi dibutuhkan oleh perusahaan agar lebih efektif dalam berbagi informasi. Internet dan teknologi informasi yang dirancang secara unik untuk memenuhi kebutuhan dalam berbagi dapat memudahkan perusahaan, sehingga setiap orang tidak harus selalu bertatap muka dan menggunakan printer atau kertas secara berlebihan dalam berbagi informasi.

Replikasi (Replication)

Teknologi informasi akan membuatnya menjadi jauh lebih mudah untuk mereplikasi(measurement, experimentation, sharing), membantu perusahaan dalam menemukan dan berbagi, tapi kemudian teknologi informasi memungkinkan untuk mengambil, meningkatkan proses bisnis tersebut dan menyalinnya berkali-kali.

 

 

 

 

  1. Peranan teknologi informasi

Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan. Teknologi ini menggunakan seperangkat komputer untuk mengolah data, sistem jaringan untuk menghubungkan satu komputer dengan komputer yang lainnya sesuai dengan kebutuhan, dan teknologi telekomunikasi digunakan agar data dapat disebar dan diakses secara global.

 

Terdapat tiga sasaran utama dari upaya penerapan Teknologi Informasi dan Sistem Informasi dalam suatu organisasi. Pertama, memperbaiki efisiensi kerja dengan melakukan otomasi berbagai proses yang mengelola informasi. Kedua, meningkatkan keefektifan manajemen dengan memuaskan kebutuhan informasi guna pengambilan keputusan. Ketiga, memperbaiki daya saing atau meningkatkan keunggulan kompetitif organisasi dengan merubah gaya dan cara berbisnis (Ward and Peppard, 2002).

 

Sering ditemukan bahwa penerapan Teknologi Informasi kurang berpengaruh terhadap peningkatan kinerja dan kesuksesan bisnis organisasi maupun peningkatan daya saing organisasi. Hal tersebut terjadi akibat penerapan SI/TI yang hanya berfokus pada teknologinya saja. Oleh karena itu, cara efektif untuk mendapatkan manfaat strategis dari penerapanTeknologi Informasi adalah dengan berkonsentrasi pada kaji ulang bisnis (rethinking business) melalui analisis masalah bisnis saat ini dan perubahan lingkungannya serta mempertimbangkanTeknologi Informasi sebagai bagian solusi (Earl, 1992).

 

Perencanaan strategis Teknologi Informasi mempelajari pengaruh Teknologi Informasiterhadap kinerja bisnis dan kontribusi bagi organisasi dalam memilih langkah-langkah strategis. Selain itu, perencanaan strategis Teknologi Informasi juga menjelaskan berbagai tools, teknik, dan kerangka kerja bagi manajemen untuk menyelaraskan strategi Teknologi Informasidengan strategi bisnis, bahkan mencari kesempatan baru melalui penerapan teknologi yang inovatif (Ward & Peppard, 2002).

 

Beberapa karakteristik dari perencanaan strategis Teknologi Informasi antara lain adalah adanya misi utama : keunggulan strategis atau kompetitif dan kaitannya dengan strategi bisnis; adanya arahan dari eksekutif atau manajemen senior dan pengguna; serta pendekatan utama berupa inovasi pengguna dan kombinasi pengembangan bottom up dan analisa top down (Pant & Hsu, 1995).

 

Bagi beberapa perusahaan, sebuah strategi IT tidak selalu pada kasus yang formal. Walaupun dinamakan perencanaan Sistem Informasi (IS) “Strategic”, arsitektur aplikasi, data, teknologi dan proses manajemen IS, yang terdiri dari standar pengembangan dan pelaporan, semuanya disajikan dengan rencana, proses dan kebutuhan dari bisnis yang ada saat ini. Tidak ada acuan atau philosofi untuk kegunaan teknologi di perusahaan dan tidak terkesan adanya aturan yang signifikan dalam menentukan strategi mana yang lebih efektif, menguntungkan dan dapat dikerjakan dengan mudah.

Dalam lingkungan konvensional, hubungan antara strategi kompetitif perusahaan dan manfaat penggunaan IT dikembangkan melalui beberapa lapisan; dari perencanaan, analisa dan perancangan. Dapat dipahami bila pada ligkungan sseperti ini IT memiliki pengaruh yang kecil terhadap strategi kompetitif perusahaan. Sejalan dengan semakin luasnya pemanfaatan IT di lingkungan bisnis, semakin terlihat tidak ada lagi pemisahan antara IT dan Strategi kompetitif perusahaan, karena semua strategi kompetitif harus memiliki IT sama halnya dengan memiliki marketing, produsen dan keuangan.

Strategi IT membantu manager untuk mendefinisikan batasan pembuatan keputusan untuk tindakan berikutnya, tapi menghentikan dengan singkat dalam menentukan tindakan untuk dirinya sendiri. Hal ini merupakan perbedaan mendasar antara Strategi IT dan perencanaan IT. Strategi IT merupakan kumpulan prioritas yang menguasai pembuatan keputusan bagi user dan proses data profesional. Hal itu merupakan bentuk aturan framework untuk kegunaan IT dalam perusahaan, dan menjelaskan bagaimana seorang eksekutif senior pada perusahaan akan berhubungan pada infrastruktur IT. Perencanaan IT pada hal lain, memfokuskan pada pelaksanaan dari Strategi IT.

Perencanaan Strategis Sistem Informasi diperlukan agar sebuah organisasi dapat mengenali target terbaik untuk melakukan pembelian dan penerapan sistem informasi manajemen dan menolong untuk memaksimalkan hasil dari investasi pada bidang teknologi informasi. Sebuah sistem informasi yang dibuat berdasarkan Perancangan Startegis Sistem Informasi yang baik, akan membantu sebuah organisasi dalam pengambilan keputusan untuk melakukan rencana bisnisnya dan merealisasikan pencapian bisnisnya. Dalam dunia bisnis saat ini, penerapan dari teknologi informasi untuk menentukan strategi perusahaan adalah salah satu cara yang paling efektif untuk meningkatkan performa bisnis.

Strategi TI diperlukan untuk :

  • Pengetahuan mengenai teknologi baru
  • Dilibatkan dalam perencanaan taktis dan strategis
  • Dibahas dalam diskusi perusahaan
  • Memahami kelebihan dan kekurangan teknologi

Dengan semakin berkembangnya peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis, maka menuntut manajemen SI/TI untuk menghasilkan Sistem Informasi yang layak dan mendukung kegiatan bisnis. Untuk itu, dituntut sebuah perubahan dalam bidang manajemen SI/TI. Perubahan yang terjadi adalah dengan diterapkannya Perancangan Strategis Sistem Informasi untuk memenuhi tuntutan menghasilkan SI yang mendukung kegiatan bisnis suatu organisasi. Seiring dengan perkembangan zaman dan dunia bisnis, peningkatan Perencanaan Strategis Sistem Informasi menjadi tantangan serius bagi pihak manajemen SI/TI.

SI/TI sebagai Enabler, Organisasi/perusahaan dituntut untuk mengaplikasikan teknologi bukan hanya untuk menjaga eksistensi bisnisnya melainkan juga untuk menciptakan peluang dalam persaingan. Pemahaman mengenai peran pengembangan teknologi dan sistem informasi diperlukan untuk mengelola teknologi dan sistem informasi dalam organisasi itu sendiri.

IT mendukung perusahaan/organisasi di level

  • Strategik

Relevan dengan target pencapaian jangka panjang dan bisnis secara keseluruhan

  • Taktis

Diperlukan untuk mencapai rencana dan tujuan strategis dalam rangka melakukan perubahan menuju sukses

  • Operasional

Proses dan aksi yang harus dilakukan sehari-hari untuk menjaga kinerja

 

 

  1. Peranan CIO Dalam Perusahaan

Chief Information Officer (CIO) adalah jabatan untuk kepala teknologi informasi dalam sebuah organisasi. CIO biasanya melaporkan ke salah satu kepala keuangan atau, dalam TI yang berpusat pada organisasi, untuk kepala eksekutif.
 Chief Information Officer (CIO) adalah jabatan umum diberikan kepada orang di suatu perusahaan bertanggung jawab untuk teknologi informasi dan sistem komputer yang mendukung tujuan perusahaan. Sebagai teknologi informasi dan sistem menjadi lebih penting, CIO telah datang untuk dilihat di banyak organisasi sebagai kontributor kunci dalam merumuskan tujuan strategis. Biasanya, CIO dalam keputusan perusahaan besar delegasi teknis kepada karyawan lebih akrab dengan rincian. Biasanya, seorang CIO mengusulkan teknologi informasi suatu perusahaan perlu untuk mencapai tujuannya dan kemudian bekerja dalam anggaran untuk melaksanakan rencana tersebut. Biasanya, seorang CIO terlibat dengan menganalisis dan proses pengerjaan ulang bisnis yang ada, dengan mengidentifikasi dan mengembangkan kemampuan untuk menggunakan alat-alat baru, dengan membentuk kembali infrastruktur fisik perusahaan dan akses jaringan, dan dengan mengidentifikasi dan mengeksploitasi sumber-sumber pengetahuan perusahaan. Banyak CIO menuju upaya perusahaan untuk mengintegrasikan Internet dan World Wide Web ke kedua strategi jangka panjang dan rencana segera bisnis.

Keunggulan posisi CIO telah meningkat sangat sebagai teknologi informasi telah menjadi bagian yang lebih penting dari bisnis. CIO dapat menjadi anggota dari dewan eksekutif organisasi. Sementara pekerjaan CIO judul dimulai di Amerika Serikat, secara perlahan menggantikan Direktur TI sebagai judul TI eksekutif senior di Eropa dan Asia.

Meskipun tidak ada kualifikasi khusus yang khas dari CIO pada umumnya, secara historis banyak CIO memiliki gelar dalam ilmu komputer, rekayasa perangkat lunak, atau sistem informasi. CIO semakin mendapatkan gelar MBA untuk memperkuat bisnis mereka keterampilan manajemen. Baru-baru kepemimpinan CIO ‘kemampuan, ketajaman bisnis dan perspektif strategis telah mengambil diutamakan daripada keterampilan teknis. Sekarang sangat umum bagi CIO untuk diangkat dari sisi bisnis organisasi, terutama jika mereka memiliki keterampilan manajemen proyek.

Peran CIO juga kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan Chief Technology Officer (CTO) peran, meskipun mereka mungkin sedikit berbeda. Ketika kedua posisi yang hadir dalam sebuah organisasi, CIO umum bertanggung jawab untuk proses dan praktik yang mendukung arus informasi, sedangkan CTO umum bertanggung jawab untuk infrastruktur teknologi.

 

Pentingnya teknologi memperkuat peran CIO dalam perusahaan. Para CIO diharapkan dapat mendapatkan data dan insight dengan memanfaatkan teknologi sehingga bisa memberi sumbangsih pada pengembangan bisnis perusahaan. Dengan tuntutan ini, CIO menjadi sangat berpengaruh pada keputusan yang diambil dalam sebuah perusahaan.
Seiring perubahan yang terjadi pada posisi CIO, maka ada perubahan peran juga dalam pekerjaannya. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah pada penyederhanaan. Lebih dari 80 persen CIO (86 persen ASEAN dan 94 persen global) mengatakan bahwa mereka berencana untuk menyederhanan proses internal. Hal lainnya, para CIO juga berusaha mendekatkan diri dengan pelanggan.
Penelitian IBM mendeskripsikan 4 macam mandat CIO yakni memanfaatkan, memperluas, mentransformasikan dan mempelopori. Di tingkat ASEAN, mandat memperluas adalah yang dominan di sebanyak 10 dari 18 industri. CIO dengan mandat memperluas yang berferforma tinggi memandang pentingnya komunikasi dan kolaborasi internal serta integrasi bisnis dan teknologi.
Sementara itu, mandat memanfaatkan di ASEAN dijumpai di lembaga pemerintahan, otomotif dan produk konsumer. Mandat mentransformasikan banyak dijumpai di lembaga keuangan ASEAN. Mandat mempelopori di ASEAN umumnya dijumpai pada industri pasar uang, kesehatan serta telekomunikasi.

yoi

Gambar 4 : gambar CIO

Menurut Price Waterhouse Coopers2) tentang peran CIO pada tahun 1990-an, hubungan CIO dengan teknologi adalah sebesar 76%, sedangkang tahun 2000-an menjadi 20% dan bahkan berubah menjadi mitra strategis CEO dalam memberi dukungan solusi strategis organisasi.

Survei global IBM yang melibatkan lebih dari 170 CIO perusahaan-perusahaan terkemuka di dunia lewat suatu survey yang berjudul IBM CIO Leadership Forum Survey menunjukkan bahwa :
Kurang lebih sekitar 84% CIO percaya bahwa TI secara signifikan akan mengubah industri
Kurang lebih 16% dari CIO yang mengakui bahwa perusahaan mereka sudah sepenuhnya memanfaatkan TI.

Dalam studi IBM yang lain, IBM Global CEO Study, telah dilakukan riset komprehensif terhadap 750 Chief Executive Officers (CEO) dengan hasil :

– 80% di antara CEO memandang Integrasi bisnis dan teknologi sebagai hal yang sangat penting.

– 45% dari para CEO dari angka di atas sudah mengintegrasikan kedua unsur tersebut secara luas di dalam perusahaan mereka.

Menurut para CEO yang telah mengintegrasikan bisnis dan teknologi, mengatakan bahwa perusahaan mereka telah mengalami peningkatan pendapatan 3 kali lipat lebih sering dari perusahaan-perusahaan yang kurang terintegrasi. Kelompok CEO ini juga mengaku dapat meraih pendapatan 5% lebih cepat dari pesaing-pesaingnya

Menurut Julianto Sudarto, Country Managing Director Accenture, penelitian terhadap CIO atau CTO tentang peran mereka dalam pengembangan teknologi informasi (TI), termasuk urusan belanja dan pengelolaannya menunjukkan 60% dari mereka telah diberi tanggung jawab menentukan kepentingan bisnis perusahaan.

Lembaga Riset Accenture telah melakukan penelitian terhadap 48 CIO dan CTO di Malaysia, Singapura dan Indonesia – yang merupakan bagian dari penelitian global Accenture terhadap 500 CIO dari perusahaan publik maupun swasta di 22 negara.

Menurut Julianto Sudarto, Country Managing Director Accenture, hasil penelitian terhadap CIO atau CTO tentang peran mereka dalam pengembangan teknologi informasi (TI), termasuk urusan belanja dan pengelolaannya menunjukkan :

  • 60% dari mereka telah diberi tanggung jawab menentukan kepentingan bisnis perusahaan.
    Belanja TI di Indonesia mayoritas ditentukan divisi TI (50%), Singapura 12% dan Malaysia 27%. Sementara itu, arahan kantor pusat hanya 21% — ini pun bila ada penyelarasan program yang bersifat global.
    Untuk perubahan infrastruktur yang dominan dan alih daya infrastruktur, CIO di Singapura lebih berperan ketimbang CEO-nya (masing-masing 94%), sementara di Malaysia 80% dan Indonesia Hanya 77% dan 71%.
    Untuk keputusan aplikasi (upgrade, perubahan atau alih daya), Persentase keterlibatan CIO Indonesia berkisar 31%-57%, sedangkan di Singapura 50%-94%.

Hasil survei Lynda Applegate, Profesor di Harvard Business School tentang aktivitas kerja yang dilakukan seorang CIO dalam bekerja, menunjukkan bahwa kegiatan utama CIO adalah Strategi perusahaan, SDM dan Operasi. Hasil survei tersebut adalah sebagai berikut :

Bila dilihat pada gambar 1-Aktifitas CIO, faktor teknis TI hanya 19% dari total 100%. Hal ini menunjukkan faktor teknis tidak memberikan kontribusi yang sangat berarti, karena faktor strategi (27%), SDM (17%), Operasi (13%) dan sebagainya justru lebih diutamakan. Dari hasil survei di atas dapat terlihat alasan utama mengapa CEO cenderung menyukai CIO berlatar belakang non TI. CEO akan lebih mudah berkomunikasi dengan CIO yang bersifat “business managers” daripada “technical managers”. Sehingga, pengetahuan bisnis dan manajemen yang memadailah yang lebih diperlukan dalam kriteria pemilihan CIO.

Kasus fraud yang menimpa Enron, WorldCom, Philadelphia, Tyco menyadarkan kalangan bisnis di AS tentang pentingnya IT Governance. Bahkan dibuatlah the Sarbanes-Oxley Act di tahun 2002 untuk mengembalikan keyakinan para stakeholder. SOA mewajibkan eksekutif perusahaan menyatakan pertanggung-jawaban mereka dalam membangun, mengevaluasi dan memonitor keefektifan sistem pengendalian intern dimana fungsi IT menjadi sangat krusial untuk memenuhi persyaratan tersebut. Akibat dari SOA tersebut :

– Belanja IT di seluruh dunia naik dengan pertumbuhan 5% atau US$916 milyar di tahun 2004 (IDC, 2005), Lebih dari US$ 3,1 triliun pada 2006 dan diperkirakan meningkat di tahun 2007.

– Khusus belanja IT di Asia Pasifik, ternyata pembelanjaan TI (11%/tahun) melampaui kawasan lain di dunia.

– India dan Cina berada di jajaran terdepan dari pembelanjaan ini (tumbuh 40% dan 20% per tahun).

– Kawasan Asia Tenggara tumbuh dua digit.

Kasus Enron tersebut diatasi dengan IT Governance, salah satunya dengan GCG – Good Corporate Governance. GCG dapat mengatasi teori keagenan di dalam bisnis dengan cara penggunaan perangkat-perangkat IT.Teori keagenan di dasarkan pada 3 asumsi yaitu :
Asumsi sifat manusia , Asumsi keorganisasian dan Asumsi informasi.

Asumsi Informsai menekankan bahwa informasi sebagai barang komoditi yang dapat diperjual belikan. Dengan pesatnya perkembangan teknologi dan membanjirnya informasi, maka kegiatan bisnis menjadi semakin kompleks. Hal ini disebabkan semakin dekatnya “jarak” antara pelaku bisnis, boleh dikata dalam hitungan detik para pelaku bisnis dapat saling berhubungan dalam bentuk apapun. Ada 3 faktor utama yang menyebabkan perubahan-perubahan mendasar pada kegiatan ekonomi :
Teknologi

Kemajuan-kemajuan Hardware di dunia komputer, di dunia telekomunikasi, dan trend bergabungnya teknologi-teknologi tersebut dan teknologi lainnya dengan tujuan menyediakan Layanan Universal, Personal dan dengan kemampuan mobilitas. “ Kapan pun, di mananpun, layanan apapun”. Hal ini tidak lepas dari teori keagenan di atas.
Pasar. Akibat dari kemajuan teknologi, terjadi juga perubahan-perubahan di sisi Market. Perubahan dari Kekuatan kustomer yang ingin Layanan apapun, Kapan pun, dan di manapun membawa perubahan pula di sisi Vendor. Munculnya real time operation, JIT, TQM, CRM semuanya tidak lepas dari persaingan vendor untuk menyediakan Layanan bagi kustomer. Bakan vendor bisa jadi harus merubah strategi perusahaannya, proses bisnis dan manajemennya.
Regulasi. Perubahan teknologi dan pasar, membuat pemerintah perlu membuat aturan-aturan baru. Perubahan teknologi yang menyebabkan perubahan perilaku bisnis, harus di atur dengan aturan-aturan baru. Dampak langsung yang timbul dari sebab-sebab di atas dapat kita rasakan secara langsung, antara lain :
Interaksi yang intens dengan vendor dan konsumer
Perubahan Managemen dan Teknologi
Perubahan Atitude para eksekutif dan stakeholder

Peran CIO

Disinilah CIO dituntut perannya. CIO harus bisa membuat suatu perusahaan mendapat profit margin yang besar akibat adanya perubaha-perubahan teknologi, pasar dan regulasi yang membawa dampak perubahan perilaku bisnis.

Menurut Indra Utoyo, Direktur Teknologi Informasi/CIO PT Telkom Tbk, CIO memiliki peran dalam mengeliminasi kompleksitas dengan memilih teknologi yang bisa mendukung sasaran kegiatan bisnis. Dan hal itu dimulai dari praktek-praktek manajemen, bukan dari teknologinya.

Menurut Presiden Direktur IBM Indonesia Betti Alisjahbana, peran CIO sekarang adalah menjadi TI pemberdaya dan katalis inovasi. Tujuannya adalah untuk menentukan arah bisnis strategis dan menawarkan ide-ide baru serta menyejajarkan TI sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat bisnis. Jadi, peran CIO berubah dari business support menjadi business enabler3)

Tugas CIO :
Munculnya tugas dan wewenang CIO di bidang strategis dan semakin meningkatnya peran tersebut. CIO harus mengenali pengaruh TIK terhadap organisasi, menentukan arah / strategi TIK yang menjamin adanya keselarasan antara strategi bisnis dan strategi TIK
Antisipasi perubahan teknologi, market dan regulasi.

Kemampuan mengenali perkembangan, potensi teknologi dan bisnis TIK dalam konteks pemanfaatan peluang bagi organisasi dan transformasi organisasi dan perlu menekankan kepada pelaku organisasi tentang pentingnya era web-based services dibandingkan kemajuan teknologinya sendiri
CIO bertugas mengorganisasikan dan melindungi asset-aset TI perusahaan

Menentukan dan menjamin tatakelola TIK yang benar dan baik dalam organisasi sehingga dinamika organisasi selalu menuju pada tujuannya.
CIO bertugas sebagai visioner yang memimpin dan mengendalikan strategi perusahaaan.

Merumuskan visi dan misi; menterjemahkannya menjadi tujuan organisasi; kemudian menjalankan dan memimpin organisasi TIK untuk mencapai hasil-hasil sesuai visi, misi dan tujuan organisasi
CIO menjadi leader dalam pengukuran dan pengembangan new computing.

Mendemonstrasikan dan melakukan pengukuran nilai dari TIK, secara proaktif mengatur performansi berdasarkan hasil yang didapatkan.
CIO bertugas untuk menjembatani Gagap teknologi

Mendistribusikan teknik baru hasil pengembangan, alat dan pendekatan yang dilakukan

Persyaratan CIO

Untuk menjadi CIO, orang harus memenuhi persyaratan CIO, antara lain:
Figur CIO adalah yang memiliki kemampuan bisnis

Kebutuhan perusahaan terhadap figur CIO mengalami pergeseran. Rata-rata figur CIO yang dicari adalah yang memenuhi persyaratan dan kompetensi yang lebih tinggi, serta memenuhi kriteria business people, bukan techno people. Bahkan banyak perusahaan saat ini yang mencari CIO yang memiliki latar belakang keuangan. Oleh karena itu CIO harus mempunyai kompetensi
kepemimpinan bisnis seperti negosiasi, hubungan dengan pelanggan, kontrak,
kemampuan tentang manajemen perubahan karena perubahan yang cepat di bidang teknologi, market dan regulasi.
Mempunyai kemampuan komunikasi yang baik.

Pada ummumnya Profesional TI suka akan informasi terbaru dari teknologi terbaru. Sehingga lebih banyak berinteraksi dengan mesin daripada dengan manusia lain. Atau biasa disebut “technologist” yang pendiam dan tertutup dalam hubungan sosial tetapi cenderung kompleks, detil dan komplit saat bicara tentang bidang yang memang disukainya.

Berbeda dengan pola komunikasi seorang “businessman” yang lebih generalis dan menyukai solusi yang sederhana, sering bermetafora dalam negosiasi dan lobi.
Pengetahuan manajemen yang bagus

CIO juga harus “mengerti” seluk beluk bisnis dan manajemen, mengerti arti investasi dan menerjemahkannya dalam bentuk hitungan finansial bisnis (misalnya ROI, Cashflow, NPV), dapat menjalankan fungsi manajemen lintas departemen, dan menciptakan value bagi peningkatan revenue perusahaan melalui TI dengan strategi bisnis yang tepat. Dengan demikian CIO harus memiliki kompetensi di bidang manajemen teknologi informasi, perencanaan strategis teknologi informasi, manajemen proyek teknologi informasi
MempunyaiSoft-skills dan Hard-skill yang bagus

CIO harus mempunyai kompetensi di bidang teknis yaitu kompetensi penguasaan teknologi informasi. Sepuluh hal-hal dasar yang diinginkan dari seorang CIO di Indonesia adalah kemampuan soft-skill dan hard-skill.

  • Soft skill :

Kemauan belajar hal baru, Jujur, Kreatif/inovatif, Bahasa Inggris, Disiplin, Kemampuan analisis, Kemampuan bekerja dalam tim, Ketrampilan interpersonal, Komunikasi lisan, Problem solving skills

  • Hard-skills

Keamanan jaringan (networking security), Algoritma, Perancangan basisdata, Struktur data, Administrasi jaringan, Ketrampilan terkait dengan hardware, Metode pengembangan system informasi, Object oriented analysis/ design/ programming, SQL, TCP/IP

Problematika yang dihadapi CIO

Dalam pekerjaanny, seorang CIO akan menghadapi banyak masalah. Masalah-maslah yang sering dihadapi8) antara lain :

Rank Issue

1 IT and Business Aligment

2 Attracting, developing, retaining IT Professional

3 Security and Privay

4 IT Strategic Planning

5 Speed and Agility

6 Government Regulation

7 Complexity reduction

8 Measuring the performance of the IT Organization

9 Creating an information Architecture

10 IT Governance

Peranan CIO di PT.xxx

Berdasarkan 3 kelompok perubahan yaitu teknologi, market dan regulasi, maka CIO-nya dituntut untuk :
Menguasi kemajuan di bidang teknologi.

Perubahan yang sangat cepat di bidang teknologi dengan munculnya teknologi-teknologi seperti GPRS, CDMA-200, cdma-2000 EV-DO, 3G, WiMax, dll sangat perlu di antisipasi dan katalog-kan. Saat ini bisnis yang diterjuni adalah :
Teknolgi Akses Radio GSM, 2.5G, 3G dan 3,5G
Teknologi Akses Radio cdma2000, cdma2000 EV-DV dan cdma 2000 EV-DO
Teknologi Akses OAN, MS-OAN
Teknologi Transport SDH Optik, NGN SDH
Teknologi Transport SDH dan PDH Radio
Teknologi Next Generation Network
Teknologi Civil, Mechanical, Electrical seperti Tower, Shelter dan Gedung, Genset
Teknologi Akses berbasis IP Pre-Wimax, Wimax
Menguasai pemahamam tentang Market

Perubahan teknologi dan kemajuan industri menyebabkan globlasisasi sehingga terbuka peluang bagi vendor-vendor di luar masuk ke Indonesia beserta teknologinya. Hal ini memang tidak bisa dibendung. Sehingga perusahaan harus mengubah strategi-nya.

Salah satu contoh perubahan strategi ini sudah dialami oleh perusahaan telekomunikasi asal Amerika, yaitu Motorola. Motorola melakukan produksi di China agar memperoleh harga produk yang murah dan dekat dengan pasar Asia.

Sebagai contoh persaingan adalah :

  • Produk dari China ZTE untuk CDMA, OAN, MS-OAN dan Aksesories
  • Produk dari China Huawei untuk CDMA, OAN, MS-OAN dan Aksesories
  • Produk dari Taiwan Repeater seperti Comba
  • Produk dari Korea untuk CDMA, Transmisi dan Aksesories
  • Produk-produk dari Eropa Untuk GSM seperti Nokia, Siemen, Ericsson, Motorola

Perubahan Strategi ini harus di dukung dengan informasi-informasi bisnis dan juga teknologi yang tepat. Selain munculnya producen-produsen dari asia, munculnya operator-operator baru memunculkan pula pola bisnis baru. Operador Baru dengan dana yang tidak terlalu besar, harus bersaing dengan operador-operator lama yang sudah melampui Break Event Point. Dengan coverage yang sangat luas tentunya dibutuhkan dana yang sangat besar. Untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut, maka muncul pola baru :

– Pola Build, Operate and Transfer ( BOT )

– Pola Build, Operate – Leased ( BOL )

– Pola Sharing Infrastruktur
Menguasai pengetahuan tentang Regulasi

Munculnya perubahan teknologi menjadikan munculnya aturan-aturan baru.

  • Kewajiban bagi operator untuk menyediakan Layanan Universal USO
  • Seperti aturan frekuensi 3 G dan telah dilakukannya lelang frekuensi 3 G,
  • frekuensi WiMAx yang belum ditentukan,
  • aturan VoIp, Multimedia dan mungkin juga aturan tentang Unified License.

Disinilah PT.xxx dituntut untuk memperjuangkan kepentingannya di bidang regulasi. Dengan mencermati perkembangan-perkembangan teknologi, market dan regulasi, maka CIO dituntut untuk mengikuti perubahan dengan memperhatikan kondisi perusahaan. Kondisi perusahaan saat ini adalah :
Strategi

Menjadi penyedia jasa bagi pelanggan. Saat ini PT.xxx menjadi penyedia jasa di operator-operator telekomunikasi seperti TELKOM, INDOSAT GROUP, TELKOMSEL, MOBILE 8, XL, ESIA. Di bidang teknologi, xxx tidak mempunyai core produk. Strategi bisnis yang sudah berhasil dilakukan selama ini adalah sebagai main kontraktor dengan pembiayaan sendiri atau dengan pola Konsorsium. Di bidang regulasi, xxx tidak dapat mempengaruhi regulasi.

Dengan perubahan-perubahan tersebut maka seorang CIO bertugas untuk membantu :
Menyediakan infrastruktur untuk Decision Making
Koordinasi dengan berbagai divisi bisnis untuk melakukan pemilihan partner, produk, dan pelanggan Arsitektur IT. Seorang CIO harus bisa memotret keadaan IT di perusahaan dan kemudian melakukan analisa apakah sistem informasi tersebut sudah efektif. Pada umumnya sistem yang digunakan adalah de-sentralisasi di berbagai Divisi, bahkan seperti PT.xxx tidak mempunyai Divisi khusus yang menangani IT. Sehingga jika terjadi gangguan, tidak ada kejelasan tanggung jawab. Biasanya di departemen-departemen tersedia aplikasi-aplikasi yang berbeda. Demikian juga data-data. Data-data lebih banyak tersimpan di pengguna, sehingga tidak ada sharing data. Masing-masing divisi mempunyai kebijakan-kebijakan sendiri. Produk kadang-kadang ditangani oleh banyak divisi sehingga terjadi double investasi, double SDM dan terjadi perbedaan-perbedaan harga untuk produk yang sama.

BAB IV

PENUTUP

 

Kesimpulan

Sistem informasi adalah suatu sistem yang terintegrasi secara professional untuk menjadi dasar bagi manajemen dalam pengambilan keputusan serta membantu kegiatan operasional perusahaan. Dengan adanya sistem informasi juga proses bisnis serta penyampaian komunikasi antar karyawan satu dengan yang lainnya bisa berjalan lancar. informasi yang terdapat di perusahaan menjadi batasan waktu dalam pencapaian kesuksesan, sehingga apabila penyampaian informasi dilakukan secara lambat maka akan mempengaruhi manajemen dalam pengambilan keputusan yang efektif dan efisien. Pada kasus ini, maka yang menjadi tempat studi kasus adalah PT.Bakrie Telecom. Dengan didukung oleh kemajuan teknologi yang berbasiskan internet dalam internal perusahaan BTEL, maka komunikasi antara pelanggan, karyawan, mitra bisnis, masyarakat dan stakeholder lainnya mampu berjalan dengan efektif dan efisien.

Selain itu, dengan adanya manajemen sistem informasi berbasis internet/intranet/ekstranet ini, alur proses bisnis IT Service Request mampu berjalan dengan jelas dan dikelola serta diawasi oleh Departemen IT BSS melalui engine sistem informasi yang telah di implementasi.

Pengembangan Human Resource pada PT. Bakrie Telecom dikaitkan dengan beberapa sistem informasi yang telah disebutkan sebelumnya. Ketika sumber daya dalam perusahaan bisa memanfaatkan sistem informasi yang ada didalamnya dengan sebaik-baiknya, maka penyampaian informasi yang terstruktur, terkait tujuan perusahaan, bisa meningkatkan efektifitas sehingga manajer bisa percaya dan tepat waktu untuk mengambil keputusan terutama yang berhubungan dengan operasional bisnisnya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

O’Brien, James A. 2005. Pengantar Sistem Informasi, Perspektif Bisnis dan Manajerial. Edisi 12. Terjemahan: Introduction to Information Systems, 12th Ed. Palupi W. (editor), Dewi F. dan Deny A. K. (penerjemah). Salemba Empat. Jakarta.

http://bakrietelecom.com , diakses pada tanggal 28/10/2013, 23:15.

http://www.wikipedia.org , diakses pada tanggal 30 Oktober 2013, 22:32.

http://www.id.scribd.com , diakses pada tanggal 30 Oktober 2013, 22:55

http://www.fp.unram.ac.id , diakses pada tanggal 30 Oktober 2013, 22:26.

Pengembangan dan Implementasi SI MarketPlace

Unipdu Warna

                                                                                                                                                  

Di susun Oleh :

Nama                        : Dian ahmad (4114037)

Dosen Pengampu   :  Endang Kurniawan S.Kom., M.M. CEH, CHFI, CIPM.

 PROGRAM S1 SISTEM INFORMASI

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG

2015/2016

BAB I

PENDAHULUAN

1.Latar Belakang

Saat ini kebutuhan manusia dalam berjual-beli semakin menaningkat, ini disebabkan adanya pola pergeseran hidup manusia ke arah yang lebih berkembang. Dengan pemanfaatan internet hal ini dapat terfasilitasi dengan cepat. Akibatnya akan terjadi keefisiansian waktu, biaya dan resource, sehingga akan menghasikan output yang optimal. Disisi lain kebutuhan akan berjual-beli itu terhalangi oleh adanya jarak dan waktu, terkadang kita membutuhkan akses pedagan maupun penjual yang berada di negara yang berbeda.

2.Perumusan Masalah

Adapun Perumusan masalah dari penyusunan makalah ini yaitu sebagi berikut :

  1. Apa pengertian Marketplace

  2. Apa saja kelebihan dan Kekurangan Marketplace ?

  3. Bagaimana Evolusi Marketplace?

  4. Apa saja tipe Marketplace ?

3 .Tujuan 

Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini yaitu sebagi berikut :

  1. Mengetahui pengertian Marketplace.

  2. Untuk mengetahui apa kelebihan dan kekurangan Marketplace.

  3. Untuk mengetahui Evolusi dari marketplace

  4. Mengetahui apa saja tipe Marketplace.

Bab II

Pembahasan

1. Pengertian Marketplace

Marketplaces adalah tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk bertukar barang dan jasa dengan uang atau dengan barang dan jasa lain secara nyata. Marketspace dalah tempat bertemunya pembeli dan penjual untuk bertukar barang dan jasa dengan uang atau dengan barang dan jasa lain, melalui media elektronik. Media elektronik yang dipakai adalah komputer yang dilengkapi dengan jaringan internet.

2. Kelebihan dan Kekurangan Marketplace

  • Kelebihan marketplaces

    pembeli dan penjual bisa bertransaksi secara langsung, -transaksi lebih jelas dan kecurangan dalam bisnis kemungkinannya kecil

  • Kelemahan marketplaces

    tidak efisien waktu dan tempat, – pembeli dan penjual tidak bisa melakukannnya dalam jarak jauh, mereka harus bertemu langsung.

3. Evolusi Marketplace

Di dalam dunia maya, secara prinsip, Marketplace berkembang melalui empat tahapan evolusi berdasarkan konsep yang dikembangkan oleh Warran D. Raisch. Keempat tahapan evolusi tersebut masing-masing adalah: Commodity Exchanges, Value-Added Services, Knowledge Networks, Value Trust Networks.

–     Commodity Exchanges

      Awal terbentuknya sebuah Marketplace adalah dimana terdapat berbagai pihak atau entiti yang memiliki tujuan utama dalam berdagang. Sifat komoditas yang paling cocok diperdagangkan dalam Marketplace adalah produk atau jasa. Alasannya adalah karena selain sesuai dengan karakteristik transaksi dagang yang cepat dan berjangka pendek, barang-barang komoditas ini mudah sekali menentukan harganya sehingga tidak sulit jika dipertukarkan secara internasional (dengan memakai standar pembayaran semacam kartu kredit dan transfer bank).

–     Value-Added Services

      Evoulusi selanjutnya dari Marketplace adalah akan terbentuknya sebuah tempat dimana terciptanya sebuah bentuk-bentuk penawaran baru terhadap metode jual-beli yang sudah ada di suatu pasar konvensional. Filosofi utama yang mendasari jenis perdagangan ini adalah suatu pandangan yang mengatakan bahwa setiap konsumen (atau calon pembeli) adalah unik, sehingga mereka sebenarnya mengharapkan untukmemperoleh atau dapat membeli produk atau jasa yang khusus sesuai dengan kebutuhan atau kesukaan masing-masing individu. Dengan kata lain, perusahaan harus mampu menghasilkan dan menawarkan produk atau jasa yang dapat ditambahsulam-kan (tailor made) sesuai dengan keinginan unik pelanggan. Selain variasi produk yang dapat disesuaikan, harga, cara pengiriman, lama garansi, jenis asuransi, dan hal-hal lain pun dapat dipilih sesuka hati konsumen. Di Marketplace, hal ini sangat mudah dilakukan karena banyak sekali aspek-aspek penciptaan produk atau jasa yang dapat dengan mudah di-digitalisasi-kan. Semakin hal serupa tidak dapat dilakukan di pasar konvensional, semakin besar value added yang ditawarkan oleh Marketplace. Industri dengan produk -produk yang dapat di digital-kan merupakan primadona di Marketplace ini seperti: media dan publikasi, musik dan rekaman, hiburan, kurir, dan lain sebagainya.

–     Knowledge Networks.

      Evolusi ketiga dari Marketplace adalah sebuah perkumpulan yang berbasiskan pengetahuan. Dalam hal ini hal yang menjadi titiknya adalah sumber daya manusia dengan kompetensi dan keahlian yang beragam. Interaksi antara perusahaan dengan mitra bisnis, stakeholder (yang berkepentingan), dan konsumen merupakan tidak hanya merupakan sebuahkomunikasi pasif belaka, namun di dalamnya terkandung aspek-aspek pengetahuan yang secara sadar atau tidak saling dipertukarkan. Lihatlah bagaimana dengan hanya berbekal fasilitas browsing dan situs-situs portal, seseorang yang sangat awam di bidang tertentu dalam waktu singkat dapat memiliki berbagai referensi berharga berkualitas tinggi untuk dipelajari. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa hanya dengan berbekal email dan situs (homepage), seorang individu dapatmengembangkan bisnis dengan berbagai sumber daya data dan informasi yang telah tersedia gratis di internet. Di samping itu, perusahaa n pun dapat “belajar” banyak dari perusahaan-perusahaan lain, baik yang merupakan mitra bisnis atau pun para pesaingnya. Konsumen pun menjadi bertambah “pintar” karena hampir tidak ada lagi hal yang dapat disembunyikan oleh para penjual produk atau jasa. Hampir tidak ada lagi produk atau jasa dengan kualitas buruk yang mampu bertahan lama di pasaran karena konsumen akan “diberitahu” oleh sumber-sumber lain melalui internet mengenai produk atau jasa yang buruk mutunya tersebut. Marketplace ini secara tidak langsung akan meningkatkan kualitas perdagangan di dalam kehidupan manusia, karena sudah tidak ada lagi yang dapat dikelabui atau “dibodohi” oleh siapapun. Setiap tawaran, ajakan, data, maupun informasi dapat dengan mudah dicek kebenarnnya di internet.

–     Value Trust Network

      Evolusi terakhir dari Marketplace adalah value trust network. Evolusi terakhir dari e-marketplace ini merujuk pada sebuah jaringan yang merupakan bertemunya berbagai individu, komunitas, institusi, perusahaan, bisnis, pemerintah, negara, dan entiti lainnya. Sebuah workgroup akan terbentuk di dalam sebuah dunia maya dengan berbagai dan bermacam-macam kepentingannya masing-masing. Interaksi ini akan terwujud jika jaringan dari sebuah marketplace dapat dipercaya dalam konteks ini adalah security yang aman. Berbagai prasyarat yang harus dipenuhi oleh Marketplace untuk menuju kepada lingkungan tersebut di antaranya adalah: faktor keamanan dalambertransaksi, jaminan privasi dalam berkomunikasi, adanya standar pertukaran informasi antar institusi yang disepakati, dan berlakunya hukum dunia maya yang efektif.

4. Tipe-tipe Marketplace

  • Private marketplaces

Biasanya dimiliki oleh perusahaan perorangan. Sebuah perusahaan akan menjual produk baik secara customization atau standard. Misalnya : Cisco. Ini lebih mirip seperti sebuah B2C storefront. Bentuk ini sering disebut one to many, satu penjual ke banyak pembeli atau Sell Side marketplaces

Sedangkan jika sebuah perusahaan membeli dari banyak pemasok, tipe ini disebut many to one, banyak penjual ke satu pembeli atau Buy Side marketplaces. Misalnya Rafless Hotel membeli kebutuhan dari banyak pemasok.

  • Public marketplaces

Biasanya pasar B2B. Mereka dimiliki oleh pihak ketiga yang menjual atau membeli perusahaan (consortium) dan mereka melayani banyak penjual dan banyak pembeli. Pasar ini sering kita ketahui dengan sebutan exchange (misalnya stock exchange, Bursa Efek).

Mereka mengumumkan ke public dan diatur oleh pemerintah atau pemilik exchange.

BAB III

KESIMPULAN

Semakin pesat perkembangan akan teknologi informasi, membuat banyak bidang usaha yang telah mengembangkan bisnisnya berbasis Marketplace.Marketplace juga memiliki keamanan yang bisa dipercaya Karena semua transaksi dilakukan oleh system.Semakin pesat perkembangan akan teknologi informasi, membuat banyak bidang usaha yang telah mengembangkan bisnisnya berbasis Marketplace.

Analisis Sistem Informasi manajemen logistik

Analisis Sistem Informasi manajemen logistik

“Pengembangan dan Implementa”

       Unipdu Warna                                                                                                                                                  

Di susun Oleh :

Nama                        : Dian ahmad (4114037)

Dosen Pengampu   :  Endang Kurniawan S.Kom., M.M. CEH, CHFI, CIPM.

 

 PROGRAM S1 SISTEM INFORMASI

UNIVERSITAS PESANTREN TINGGI DARUL ULUM JOMBANG

2015/2016

Continue reading “Analisis Sistem Informasi manajemen logistik”